Kamis, 23 Februari 2012

KAIDAH ABJADIYYAH

Pada postingan yang lalu di website ini, saya telah menuliskan selayang pandang tentang Ilmu Jafr, suatu ilmu pegangan para Nabi, para Wali dan para Shalihin terdahulu. Didalam postingan tersebut disebut-sebut sebuah teknik mengkonversi huruf-huruf arab kedalam angka, yaitu teknik Hisab Jumal. Kali ini saya akan memfokuskan artikel ini pada Hisab Jumal-nya dan beberapa aplikasi sederhana-nya dalam Ilmu Hikmah, semoga beranfaat!

Pernahkah anda diberi ijazah wirid oleh guru anda dengan hitungan tertentu? Seperti misalnya membaca “laa ilaaha illallah” 165 kali, atau “bismillaahirrahmaanirrahiim” 786 kali atau “hasbunallahu wa ni’mal wakiil” 450 kali?
Tahukah anda bahwa jumlah hitungan tersebut merupakan hasil kalkulasi para Ulama Ahli Hikmah terdahulu menggunakan Ilmu Hisab Jumal. Lalu apakah Ilmu Hisab Jumal itu?
Ilmu Hisab Jumal adalah ilmu mengkonversi huruf abjadiyyah kedalam nilai-nilai angka. Angka-angka hasil konversi tersebut digunakan oleh para Ahli Hikmah terdahulu untuk membuka rahasia-rahasia ayat-ayatNya.
Dalam praktek Ilmu Hisab Jumal, seorang ahli hikmah harus hafal nilai angka dari setiap huruf abjadiyyah-nya, kalau belum hafal, minimal ia harus bisa membuat tabel rumus Hisab Jumal yang akan dapat membantunya dalam mengkonversi dan mengkalkulasikan suatu asma/ayat tertentu.
Rumus Tabel Hisab Jumal menggunakan Kaidah Abjadiyyah.
Apa yang dimaksud dengan KAIDAH ABJADIYYAH?
Kaidah Abjadiyyah adalah urut-urutan tiap huruf dalam bahasa arab yang mengikuti nilai numeriknya. Urut-urutan huruf ini berbeda dengan apa yang sekarang dikenal oleh masyarakat umum (Kaidah Hijaiyyah). Sistemnya mengikuti nilai angka yang diwakilkannya. Mirip dengan urutan huruf Bani Israil ALEPH-BETH-GIMMEL-DALET..dst. ataupun peradaban yunani ALFA-BETA-GAMMA dst. Jadi kalau dilihat dari usia-nya, Kaidah Abjadiyyah ini sudah ada sebelum abad ke-8 masehi.
Urut-urutan huruf yang sekarang banyak dikenal yaitu Kaidah Hijaiyyah (alif-ba-ta-tsa-jim-ha-kho.. dst.) Mengambil pendekatan bentuk, jadi huruf-huruf yang mirip bentuknya diurutkan sedemikian rupa untuk mempermudah pembelajaran, sangat berbeda kaidah Abjadiyyah yang mengambil pendekatan numerik.
Berikut ini adalah urut-urutan huruf dalam Kaidah Abjadiyyah:
cara baca:
ABAJADUN HAWAZUN
HATHOYA KALAMANUN
SA’A-FA SHUN QOROSYUN
TA TSA KHO DZUN DLO ZHO GHUN
.
Masing-masing huruf memiliki nilai-nya tersendiri, seperti dibawah ini:
.
Lalu bagaimana pengaplikasian Tabel Rumus diatas dalam menentukan jumlah hitungan suatu dzikir tertentu? Mari kita praktekkan dengan  mengambil contoh kasus  kalimat LAA ILAAHA ILLA ALLAH, yang jika dituliskan kedalam bahasa arab menjadi:

لا إله الاّ الله

Kemudian kita pisah-pisahkan tiap huruf nya agar memudahkan menghitungnya:

ل ا إ ل ه ا ل ا ا ل ل ه

Kemudian tuliskan nilai huruf tepat dibawah huruf yang bersangkutan, lalu jumlahkan, seperti gambar dibawah ini:
Jadi, berdasarkan Hisab Jumal Kaidah Abjadiyyah, nilai daripada kalimat Laa Ilaaha Illa Allah itu adalah 165… inilah rahasia kenapa para Syeikh Tariqah mewajibkan minimal 165 kali dalam mewiridkan kalimat Laa Ilaaha Illa Allah tersebut.
Kita ambil contoh lagi dengan kalimat yang lebih panjang. Kali ini kita coba dengan kalimat HASBUNALLAAHU WA NI’MAL WAKIIL. Kita tulis dulu kalimat lengkapnya, kemudian dipisah-pisah per huruf, lalu letakkan nilai masing2 huruf tepat dibawah huruf yang bersangkutan, kemudian jumlahkan. Hasilnya akan jadi seperti ini:
.
Contoh lainnya adalah asma Al-Lathiif yang masyhur dibaca 129 kali setiap sehabis sholat subuh. Para ‘arif billah menyatakan Al-Lathiif adalah asma yang dapat digunakan untuk mendapatkan rahmat, kasih sayang, kesembuhan dan kemudahan rizki, bahkan dalam beberapa kitab disebutkan ada dua thariqah (metode) untuk 2 manfaat yang berbeda dalam mendzikirkan asma tersebut, pertama dengan awalan Ya.., menjadi YAA LATHIIF. Dengan sighat tersebut, beberapa ulama hikmah berpendapat fungsinya adalah untuk mendatangkan kebaikan. Sedangkan thariqah kedua dengan awalan alif-lam, menjadi AL-LATHIIF berfungsi untuk pencegahan dari marabahaya. Lebih detil lagi, tertulis dalam kitab syamsul ma’arif, bahwa asma ini dijaga oleh khadam malaikat bernama ‘Athfayail yang memimpin 4 malaikat penjaga lainnya, setiap 1 dari 4 malaikat tersebut memimpin 129 shaf malaikat, setiap 129 shaf terdiri dari 129.000 malaikat.
Masih banyak lagi asma-asma dan ayat-ayat yang dapat kita hitung menggunakan Hisab Humal Kaidah Abjadiyyah dan untuk keterangan lebih detilnya tentang manfaat jumlah nilai wirid tersebut silahkan rujuk kitab-kitab hikmah para Guru terdahulu.
Untuk melengkapi artikel ini, berikut saya berikan hasil hisab jumal terhadap setiap nama dari asmaul husna. Hasil perhitungan ini banyak disebut-sebut dalam kitab-kitab Hikmah seperti Syamsul Ma’arif Kubro, Khawwas Asmaul Husna dll. Insya Allah perhitungan ini akan sangat berguna bagi para praktisi ilmu wafaq juga bagi pengamal wirid asmaul husna untuk mengetahui jumlah minimal pembacaan tiap asmanya.
.
Sebagai penutup, kebetulan kita sedang berada di bulan Ramadhan, berikut ini merupakan hasil kalkulasi Ilmu Hisab Jumal yang membuktikan bahwa Lailatul Qadar HANYA ADA dibulan Ramadhan.

0 komentar:

Poskan Komentar